Selasa, 07 Juni 2011

Bayangan Semu Untuk Cinta

Rona bahagia yang terpancar dari raut wajah Rian, Cinta dan Putra, serta jeritan kebahagiaan dari siswa siswi SMAN 3 Malang sangat terlihat dan terdengar jelas ketika mereka membaca sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa mereka lulus di tahun ajaran ini. Bagaimana tidak, sekolah terbaik di Malang ini mendapatkan nilai tertinggi pertama pada tingkat Provinsi. Rian, Cinta dan Putra merupakan sebagian kecil dari siswa dan siswi SMAN 3 Malang yang memiliki prestasi cukup baik baik dibidang akademis maupun non akademis.
Rian, Cinta dan Putra adalah tiga orang sahabat yang bersahabat sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak Al- Irsyad, Malang. Setelah itu mereka melanjutkan persahabatan mereka di sekolah dasar, sekolah menengah pertama bahkan hingga tingkat sekolah menengah atas. Hari demi hari selalu mereka lewati, jangankan pertengkaran, sedikit perdebatanpun jarang sekali mereka utarakan. Yang ada setiap harinya mereka hanya bercanda gurau, limpahan curahan hati dari satu ke lainnya,serta beberapa saran dan kritik yang selalu mereka utarakan guna membangun diri sahabatnya.
Ketika seluruh siswa dan siswi dari SMAN 3 Malang bersorak gembira karena kelulusannya. Rian menarik tangan Cinta dan membisikkan sesuatu ke telinga Cinta.
“Aku sayang kamu Cinta.”
“Aku juga menyayangimu. Bukankah sebagai sahabat yang baik, kita harus saling menyayangi dan mengasihi?”
“Bukan itu yang aku maksud, dan bukan itu yang aku mau Cinta?”
“Lantas?”
“Aku menyayangi kamu, dan aku mencintai kamu. Aku ingin menjadi seorang yang spesial dalam hidupmu”
“Seorang yang spesial dalam hidupku? Bukankah sejak dulu kamu dan Putra telah menjadi seorang yang spesial dalam hidupku? Kamu adalah sahabatku. Kamu adalah segalanya bagiku.
Jujur, aku juga sangat menyayangimu, bahkan aku mencintaimu. Tetapi, apakah pernah kamu memikirkan perasaan sahabat kita? Baru saja kita merayakan kelulusan SMA. Kita sudah berusia 18 tahun, sudah sewajarnya kita dapat berfikir dan bertindak untuk lebih dewasa dan dapat menjaga perasaan orang lain. Sudahlah simpan dalam-dalam perasaan ini, kubur dalam-dalam rasa cinta ini. Bukankah cinta tidak harus memiliki? Bukankah perasaan sahabat kita dan persahabatan yang telah kita jalani sejak kecil ini lebih penting dibandingkan cinta? Cinta kita ini salah Rian...” jelas Cinta sambil meneteskan sedikit air matanya.
“Tidak, cinta kalian tidak salah. Aku yang salah jika aku tidak menyatukan cinta kalian.” Sahut Putra
Terlihat ekspresi dari Cinta dan Rian yang kaget. Permintaan maaf yang sebesar-besanya telontar dari mulut Cinta dan Rian. Akan tetapi diluar dugaan, Putra tidak sedikitpun marah atas pengakuan yang secara tidak sengaja terdengar dari mulut Cinta dan Rian. Bahkan Putra membiarkan Cinta dan Rian menjalin hubungan yang lebih dari sahabat, asalkan mereka berdua dapat bahagia.
Hari demi hari terus berlalu, akan tetapi persahaban mereka bertiga tidak pernah berlalu. Pada suatu saat mereka bertiga harus berpisah. Mereka memang ingin merencanakan untuk pergi ke Amerika bersama guna melanjutkan proses belajar setelah lulus dari SMA. Akan tetapi rencana tiga sahabat ini tidak berjalan semestinya. Hal ini terjadi karena Cinta tidak mendapatkan restu untuk belajar di luar negeri disebabkan orang tua Cinta tidak ingin Cinta berada jauh dari mereka.
Cinta menyatakan hal tersebut kepada sahabat dan kekasihnya. Awalnya Rian dan Putra tidak ingin meninggalkan Cinta untuk melaksanakan proser belajarnya.
“Bukankah kita telah berjanji tidak akan berpisah? Jika kamu tidak pegi ke Amerika dan tidak melanjutkan kuliahmu disana, maka aku sebagai sahabatmu juga tidak akan pergi ke negara itu.” Tegas Putra
“Aku sayang kamu, bahkan aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Tambahan Rian
“Jika kamu mencintaiku, jangan jadikan cintamu ini untuk menghalangi cita-citamu. Dan untukmu Putra, bukankah kamu juga pernah berkata bahwa jika sahabat kita bahagia maka kita juga ikut bahagia. Inilah yang aku rasakan. Jika kamu melanjutkan cita-cita kita, maka pernahkah kamu berfikir seberapa besar rasa bahagiaku?”
Keyakinan demi keyakinan yang diberikan oleh Cinta membuat Rian dan Putra melanjutkan niat mereka untuk melaksanakan proses belajar di luar negeri. Hingga pada akhirnya, dengan berat hati Rian meninggalkan kekasihnya dan Putra meninggalkan seorang sahabatnya untuk melanjutkan belajar di luar negeri tersebut.
“Tunggu aku 2 tahun lagi, aku adalah seorang laki-laki yang sangat mencintaimu, akan kembali pada hari ulang tahunmu yang ke 21. Begitu pula dengan Putra seorang sahabat yang sanyat menyayangimu.” Ucapan Rian seraya berpelukan dengan Putra dan Cinta di bandara daerah Malang.
“Bawakan aku kado sebuah lukisan mawar putih jika kamu kembali ke Tanah Air ini sayang”
Ucapan Cinta sebelum Rian dan Putra memasuki ruang tunggu dan melakukan penerbangan.
Hari demi dari pun telah terlewati, bulan demi bulan terus bejalan. Rona bahagia beserta senyum yang indah selalu terlihat dari raut wajah Cinta ketika handphone yang selalu ada disampingnya berbunyi. Dilihatnya ada sebuah pesan dari sang kekasih yang telah menjalin hubungan cukup lama dengannya. Rona dan senyum bahagia itupun terlihat kembali oleh Cinta ketika Ia membuka situs jejaring sosialnya. Ada beberapa e-mail dari Rian yang menyatakan bahwa Rian sangat menyayangi dan tidak ingin kehilangan Cinta.
Ya,.. Cinta dan Rian hanya bisa berhubungan lewat telephon, e-mail dan situs jejaring sosial lainnya. Jarak merupakan satu-satunya alasan mengapa mereka tidak dapat sering bertemu hingga saat ini. Akan tetapi komunikasi demi komunikasi terus mereka lakukan guna menjaga hubungan mereka tetap berjalan awet dan langgeng. Akan tetapi Cinta tidak hanya berhungan dengan kekasihnya saja, hubungan Cinta dengan Putra pun tetap berjalan selayaknya sahabat yang tidak terhalang oleh jarak dan waktu.
Tidak terasa hari yang dinanti-nantikan oleh Cinta telah tiba.
“Bukankan hari ini tanggal 14 Februari, hari ini kan hari ulang tahunku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan sahabat dan kekasihku.” ucap Cinta
Sejak fajar menjelang, Cinta telah bersiap-siap berangkat ke Surabaya untuk menjemput Rian dan Putra. Dengan mengenakan baju hitam kotak-kotak, dan jam berwarna putih yang mereka beli secara bersamaan pada 2 tahun yang lalu, Cinta melangkahkan kakinya untuk menghampiri supir pribadinya.
“ Pak tolong antarkan saya ke Bandara “Abdul Rahman Saleh” hari ini”
“Iya mbak Cinta.” Jawab supir pribadi Cinta sambil berjalan menuju garasi mobilnya.
Karena jarak antara rumah Cinta dengan bandara tidak berlalu jauh, maka Cinta yang telah berangkat ke bandara sejak fajar menjelang telah sampai di bandara“Abdul Rahman Saleh” pukul 5 pagi.
Detik demi detik yang terlihat di jam berwarna putihnya terus Cinta pandangi, seolah ingin detik tersebut bergerak lebih cepat berputar dan Cinta lebih cepat untuk bertemu dengan sahabat dan kekasihnya.
Hingga petang menjelang, tidak juga terlihat batang hidung Rian dan Putra berada di bandara tersebut. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, hingga akhirnya terlihat seorang laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna putih dan mengenakan jam yang sama dengan jam yang dikenakan oleh Cinta.
“Ade Purta Karafi.” Teriak Cinta kencang untuk memanggil Putra,seorang sahabat yang telah dinanti-nantikannya sejak terbitnya fajar tadi pagi.
Sambil berpelukan dengan eratnya Putra membisikkan kata pada Cinta
“Selamat ulang tahun sahabat terbaikku. Aku menyayangimu.”
“Terima kasih Putra, terima kasih kamu telah memenuhi janjimu untuk datang hari ini. Betapa bahagianya hari ini ketika aku melihat sahabatku datang di hari ulang tahunku.” Tanggapan Cinta seraya melepaskan dekapan dari Putra dan menghapus sedikit air mata harunya.
“Dimana Rian? Dia pasti pulang ke tanah Air juga kan untuk merayakan hari ulang tahunku?”
Putra hanya tertunduk lemas dan terdiam
“Dia datangkan? Dia memenuhi janjinya untuk datang dan membawakan sebuah kado lukisan mawar putih untukku kan? Kekasihku disinikan?” tanya Cinta kembali dengan nada yang cemas dan mendesak.
“Tidak, Dia sudah bahagia disana, dia telah menemukan kebahagiaannya, kumohon jangan harapkan kedatangannya untuk kembali bersamamu. Kumohon Cinta!!” pinta Rian
“Kenapa? Apakah dia telah memiliki isteri?” jawab Cinta lemas disertai dengan tetesan-tetesan air mata yang mengalir di pipinya.
“Tidak. Rian telah pergi, tapi percayalah Rian tetap dan selalu ada di hatiku, seorang sahabatnya, dan dihatimu, seorang kekasihnya. Dia tidak akan pergi meninggalkan kita.
Sejak 3 tahun yang lalu Rian didiapnosa oleh dokter bahwa ia mengidap kangker otak. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi bersamaku ke Amerika guna melanjutkan belajarnya, serta menghindarimu agar kamu tidak mengetahui tentang penyakit dan kematian yang akan dihadapi olehnya. Aku mengerti, mungkin kamu bertanya-tanya siapa yang membalas e-mail dan situs jejaringmu untuk Rian selama ini. Itu adalah aku, maafkan aku karena sahabatmu yang tidak berguna ini telah membohongimu. Akan tetapi semua ini aku lakukan karena aku ingin memenuhi permintaan terakhir Rian yang notabene adalah sahabatku juga untuk mengisi hari-harimu. Rian tidak ingin melihat kamu kesepian dan merasa kehilangannya.” Jelas Putra.
Setelah memberikan penjelasan tersebut, Putra memberikan sebuah bungkusan putih yang berukuran cukup besar kepada Cinta yang duduk lemas dan meneteskan air mata sambil berkata “ Jika kamu mengira Rian tidak menepati janjinya, kamu salah. Disela-sela kesakitan yang terus menerus memeras dan menyiksa otaknya, Rian membuatkan ini untukmu.”
Setelah dibuka, ternyata bungkusan tersebut berisi sebuah kanvas yang didalamnya tergores lukisan wajah gambar Rian beserta gambar bunga mawar putih yang sempat Rian janjikan. Dan pada lukisan tersebut terdapat tulisan beberapa penggal kata-kata dari Rian. “Ini adalah gambar mawar putih untukmu keksihku. Ini adalah sebuah kado yang kamu minta 2 tahun yang lalu. Kini aku bisa tersenyum bahagia meskipun aku tidak dapat menyentuhmu kembali, tapi aku dapat memenuhi janjiku.
Dan gambar dibelakang mawar itu terdapat sebuah lukisan semu wajahku yang mewakili aku, semoga kamu sadar bahwa aku telah menepati janji keduaku untuk datang pada ulang tahunmu yang ke-21. Satu permohonan terakhirku, jangan menangis kekasihku.”
___lella__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar