Kamis, 24 Desember 2015

Beberapa waktu yang lalu, adalah hari ibu ditahun 2015, banyak tulisan tulisan tentang ibu, bagaimana ibu itu sendiri, bagaimana sulitnya menjadi ibu itu sendiri, tulisan status di media sosial tentang bagaimana itu ibu, banyak banget.
kalau dari aku sendiri, entah kenapa, setiap tahun aku tidak pernah mengucapkan hari ibu itu kepada ibuku sendiri, bukan bearti tidak sayang dan cinta kepada ibu, tidak. saya rasa bukan itu.
mengabari ke ibu atau kata lain, pamit saat mau pulang itu sudah bagian dari cinta ke ibu, memberi kabar agar ibu tidak cemas kepada anaknya.
pertanyaannya, di hari ibu itu yang patut jadi sorotan itu siapa? ibu kah?
iya benar, kalau di lihat dari namanya sendiri pantas ibu, karena itu namanya hari ibu. namun sangat kurang etis apabila yang jadi sorotan adalah ibu. akan tetapi yang wajib merasakan kemistisan hari ibu justru adalah seorang anak. dimana saat ini seorang anak seharusnya menjadi puncak puncaknya rasa cinta dan pengaplikasian rasa cinta tersebut dengan berbakti kepada ibu dengan perilaku dan perbuatan tidak hanya ditulis dalam media sosial
ibu tidak akan ada apabila tidak ada anak, anak wajib hukumnya berbakti kepada ibu bahkan disebut tiga kali setelah itu bapak. dan apabila hari ibu ini sukses, pastinya tidak ada lagi pendurhakaan anak kepada ibu, dan saya yakin Rahmat Allah bercucuran turun ke bumi, kehidupan menjadi tentram nyaman, dan inilah Islam itu sendiri yang bercover di Hari Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar