Matahari pun menyingsing dari tidur malamnya, perlahan-lahan keluar dan memperlihatkan kegagahannya, terasa hangat bagi kami yang sedang main sepak bola di lapangan yang tidak luas, namun cukup untuk bermain bola, meskipun hanya pinalti an. Aku jadi kipper dan saudaraku yang bernama Jodi sebagai penendang, dushhhh, satu kali, dua kali aku tangkap bolanya, aku juga sering menunjukan skillku pada saudaraku,
“ ayo tendang yang keras, Cuma itu sajakah kekuatanmu?” ucapku sombong pada Jodi, iapun tak mau kalah, lalu menendangnya sekuat tenaga, dushhhh,,,,,, bolanya melencur keras keatas gawang ku dan menghujam di salah satu rumah yang berada di sudut lapangan yang tak jauh dari gawang, aku pun bergegas mengambil bola itu, aku menyusuri semak semak, langkah demi langkah akhirnya sampai, aku lihat bola itu, dan kuterawang rumah itu, entah ada apa dengannya, aku merinding melihatnya, `klap`, pandanganku pecah ketika ada seseorang memanggilku
“ ini mas bolanya” , ucap perempuan itu
“ hah, iya”, jawabku sambil menatap terus kedua matanya yang indah, parasnya yang cantik terasa di hatiku, entah kenapa aku yang tadi merinding melihat rumahnya, dan sekarang aku bagaikan tertembak peluru meriam besar tertancap dalam di hatiku, hingga aku tak bisa berbuat apa apa, tak kusadari, suara panggilan saudaraku bergema,
“ ayo, jangan lama lama”
“ iya,,” jawabku
dan aku langsung berlari menuju lapangan lagi, kami pun bermain lagi, tapi aku berganti posisi sebagai shooter,
“gooool” ucapku dengan keras,
gol demi gol aku ciptakanke gawang Jodi, sepertinya ia sekarang kelelahan,
“ stop, aku mau istirahat, capek” ucap jodi seraya pak polisi sedang menilang pengendara sepeda motor yang tidak pakai helm di jalanan dengan gaya satu tangan di angkat mengarah ke aku,
“ iya, aku juga capek” jawabku.
Akupun beristirahat duduk di samping saudaraku ini, dan kenapa aku masih teringat akan perempuan itu, parasnya yang cantik agak ada kecina cinaan itu, rupanya sulit untuk aku lupakan,
“ hai, kau tau namanya anak itu ?” ucapku,
“ yang mana?” jawab jodi,
“ tadi lho, anak yang ada dirumah itu,” cetusku,
“ o, anak yang main lompat tali itu ta?” ucap jodi.dengan agak menggodaku
“ lompat tali??? Bukan” jawabku, emang di depan pandangan kami terlihat anak yang sedang main lompat tali, tapi terlihat masih anak TK, kecil dan imut,
“ yang tadi lho, pas aku ngambil bola dekat rumah tua itu, ingat gag?”
“ ooooo, itu ta,, kenapa sih,, suka ya? Jawab jodi,
“ ah kamu ini,, tapi aku lihat lihat, ada yang beda dari dirinya jika di bandingkan oleh anak lainnya, ia terlihat seperti menderita, dan sepertinya ia menyembunyikan sesuatu, siapa nama gadis itu? “ ucapku
“ gadis itu bernama Rima, anak orang terkaya di kampong ini, betul katamu sepertinya dia kesepian, setiap hari dia ditinggal bapak ibunya untuk bekerja, teman-temannya pun jarang bermain dengannya, karena bapaknya selalu melarang dia untuk main, entah kenapa, kasian dia” jawab jodi
“ oh, ya ya ya” imbuh aku
#
seminggu dari pertemuan itu, aku pun berhasil berkenalan dengan gadis itu, tak lama kemudian aku jadian, wooow mantap!!, hidupku terasa semakin lengkap, inilah cinta pertamaku dari pertemuan yang tak kuduga, Tuhan memang punya rencana yang tidak bisa di tebak oleh hambanya, dan dia bagaikan pelengkap hatiku yang kosong.
Seiring berjalannya waktu, aku sering pergi ke Sidoarjo hanya untuk bertemu sang pujaan hati, meskipun harus pulang pergi Sidoarjo Pasuruan, tak apalah, apasih yang gag buat dia??? Meski harus kuseberangi lautan atlantik pun, demi dia, aku rela.
Hari berganti, entah kenapa aku seperti kosong akan hadirnya, sudah bosan mungkin, tak sengaja dalam hatiku terbisik untuk mencari lagi yang ada di Pasuruan, buat jaga jaga mungkin saja aku putus di tengah jalan dengan dia tapi jangan berpikiran bahwa aku playboy lho, Cuma buat cadangan saja tak lebih, ya benar, aku mendapatkan seorang lagi di sana, lumayan cantik sih tapi tak apalah hehehehehe.
Lama-lama aku asyik dengan pacar baruku, sehingga aku tak sempat pergi ke Sidoarjo, sampai sampai aku tidak sempat membalas smsnya, entah apa yang ada di benakku saat itu. Dan hal yang paling tak mengenakkan terjadi, aku di putusin oleh Rima, tapi tak apa, aku punya yang lain,
##
Tak kurasa aku sekarang menginjak bangku SMA, rasanya terlalu cepat bagiku semenjak mendapatkan pacar pertamaku di Sidoarjo sampai pacar yang ke lima puluh empat di SMP ku sendiri, dari semua pacarku yang pernah aku pacari, entah kenapa tak ada yang cocok dengan aku, mungkin watakku yang keras, ahhh masa bodoh amat.
Kali ini aku mendapatkan sms dari pacarku yang ke lima puluh empat, sebut saja Neni, “ Yank, kayaknya kita tidak bisa meneruskan hubungan ini, karena ibu melarangku untuk pacaran,” isi smsnya, bukannya sedih, tapi entah kenapa aku merasa tenang dan damai, bagaikan tertiup angin surgawi dan masuk menusuk kedalam pori pori kulitku. Dan kali ini aku seperti mendapatkan bisikan, kencang sekali,” Rima, ya Rima” ucapku dalam hati, lekas seketika itu aku pergi ke Sidoarjo, sesampainya di sana aku bertemu dia dirumahnya, terlihat jelas matanya yang sipit menghiasi parasnya yang manis, seperti perpaduan spectrum cahaya warna-warni menjadi satu cahaya putih, itulah Rima cinta pertamaku dan yang ke lima puluh lima semenjak aku jadian kembali dengan dia.
“ maaf ya yank, bolehkah aku tanya sesuatu padamu?”tanya aku,
“ boleh, tanya aja” ucap dia, “ semenjak kita putus, apakah kamu pernah pacaran lagi?”
tiba tiba saja dia merebahkan tubuhnya ke pangkuanku aku terkaget dan sangat amat kaget, seketika itu dia menjawab
“ aku tidak pernah, karena aku masih menginginkanmu kembali, dan akan aku jaga hati ini hanya buat kamu,” jawabnya padaku dengan sedikit menangis. Woooow, rupanya aku telah tertiup lagi oleh angin surgawi, tapi yang ini terasa sangat nyaman sekali bagaikan aku dininabobokan oleh simfoni Firdaus.
Setelah dengan lamunan panjangku, tak terasa malam pun telah datang yang mengisyaratkan aku untuk pulang ke pasuruan, aku pun beranjak pamit, akan tetapi dia menolaknya bahkan dia menginginkan aku untuk menemaninya mungkin hanya satu malam ini, dalam hatiku tidak bisa, besok ada sekolah dan sekarang aku harus pulang
“ tidak, aku harus pulang “ jawabku
seketika itu, dengan muka yang cemberut, dia masuk ke dalam kamarnya yang tidak jauh dari ruang tamu tempat kita berdua bercengkrama, dan menguncinya dengan rapat
“Duaaaarrrr”
“ Rima, Rim, Rima, bukan maksudku begitu, dengarkan aku Rima”
seketika Ibu Rini yang tak lain adalah ibunya Rima datang menenangkanku dan sembari berkata,
“ Sudahlah, mungkin dia capek karena hampir seharian dia tidak tidur, lekaslah pulang nak, hari sudah hampir gelap, mungkin besok atau nanti dia sudah tenang dan membukakan pintunya kembali”
“ baik bu, aku akan pulang” lekas aku pulang dan pamit sembari aku mencium tangannya, akupun melompat ke jok sepedaku yang telah rela menungguku seharian dengan penuh kesabaran, kini terasa riang kembali karena tuannya telah memperhatikannya lagi
“ Assalamu`alaikum”
lalu aku masukkan perlahan gigi gear sepedaku ini, greng greng suaranya menggelegar, asapnya pun tak kalah banyak, mungkin adad sedikit masalah pada bagian carburatornya, ah tak masalah, dengan hati agak kecewa aku berjalan melintasi jalanan hitam ini menuju kotaku kembali
# dirumah Rima #
sudah di coba berulang kali Ibu Rini membujuk Rima untuk keluar dan membukakan pintu, tapi apa daya tidak ada jawaban yang terbalas hanya saja ada sedikit suara yang keluar dari kamar itu, ialah suara tangisan Rima
“ Rima, bukakan pintunya sayang? Rima putriku?” ucap ibu dengan lemah lembut, namun masih saja tak ada jawaban yang keluar namun suara tangisan itu masih segar terdengar di telinga ibu, tangisan itu menandakan seribu tanda tanya, Rima yang biasanya jarang menangis, tegar, tahan dari tekanan, penurut, entah kenapa semuanya hilang gara gara tidak dapat bersama dengan laki laki Pasuruan itu, dan sekali lagi pertanda apa ini?
Hari telah berganti, dan seharusnya pagi pagi ini Rima melakukan aktifitas seperti biasa yaitu menyapu, membersihkan halaman rumah, tapi masih terlihat jelas pintu terkunci rapat rapat dari dalam kamar tak ada perubahan apapun, suara tangisannya pun terkadang masih terdengar dari luar
“ Rima, bukakan pintunya sayang, waktunya sarapan”ucap ibu
“ Rima,,,,,,,,,”
“ sudahlah, mungkin dia masih tidur, kita sarapan dulu saja, nanti bangun, dia akan keluar” ucap ayah
tik tik tik, jarum jam seperti terlalu cepat berlalu, meninggalkan si gadis anggun ini untuk membukakan pintu, terlihat sang ayah dan ibu pulang dari arena kerjanya seharian, dan sekarang kita tertuju ke sebuah ruang dimana si gadis ini berada, terpampang jelas daun pintu masih tertutup rapat dan terkunci dari dalam menghiasi sebuah ruang tamu, memang letak kamarnya berada tepat di samping ruang tamu.
“ Rima, kamu sudah makan tadi, Rima,,
“ ayah, bagaimana ini, ibu takut kalau tadi dia tidak keluar dari kamarnya,”
“ tanpa basa basi, sang ayah mendobrak pintu kamar dengan sekuat tenaga,”
BRUAAAKKKKKKK,
Terlihat, tubuh si cantik tersungkur di atas lantai dengan wajah yang sangat pucat, kurus lunglai, menggambarkan bahwa dia belum keluar kamar sama sekali, apalagi untuk makan dan minum,
“ Rima,,,,,,,,,,,,,,,,,,,” teriak sang ibu
“ aku akan bawa dia ke rumah sakit”
dengan lekas, ayah menyambar tubuh kecil ini dengan tangan kekarnya untuk di bawa ke rumah sakit, namun nyawa si gadis inipun tidak terselamatkan, dia telah meninggal di dalam kamar itu, meskipun sang ayah dan ibu menganggapnya meninggal di perjalanan menuju rumah sakit, kemudian dia di makamkan di pemakaman dekat rumahnya, sungguh malang.
(empat hari setelah kematian Rima)
aku tiba tiba terjaga dari tidurku dan langsung terpikirkan pergi ke Sidoarjo untuk menjumpai sang pujaan hati, dengan semangat aku pun mengendarai sepeda motorku yang terparkir di garasi rumah yang sebelumnya telah aku panasi dahulu agar mesinnya enak di pakai dan tidak cepat rusak, greeeng, suaranya sungguh menggelegar, dan pas sekali hari itu hari minggu, amboi, sungguh senangnya hatiku,
waktu ku lewati tanpa hambatan, jalanan pun ku terjang tanpa ada rintangan apapun yang hinggap di pikiranku, yang penting ke Sidoarjo dan bertemu Rima,
pas melewati daerah perbatasan Sidoarjo, entah kenapa hatiku menjadi gundah, terasa tidak enak dengan perasaanku terhadap Rima, langitpun tiba tiba menjadi gelap, pertanda akan turun hujan, “ah, tidak peduli, masa bodoh amat, yang terpenting aku ketemu Rima titik” ucapku dalam hati
tak terasa sampai juga di depan rumahnya, karena terlihat banyak orang sedang berkunjung ke rumahnya sehingga penuh akan sepeda motor terparkir di sana akupun memarkir sepedaku depan dihalaman rumahnya, akupun tidak ada pikiran macam macam mengenai sebuah tenda yang terpasang, mungkin ada sebuah acara keluarga, atau selamatan yang biasa di gelar oleh masyarakat sana,
“ Assalamu`alakum”
“ wa`alaikum salam” ucap semua orang yang ada di dalam rumah,
tiba tiba aku di suguhkan wajah pilu ibu Rini, dengan muka yang sedih dia mempersilahkanku untuk duduk di atas karpet hijau, terasa ada yang mengganjal di hatiku, dan selalu menyuruhku untuk ingin tau, ada apa ini?
“ ibu, apakah saya boleh tanya, ada acara apa ini, dan dimana Rima sekarang bu,?” tanyaku pada Ibu Rini yang sudah aku anggap ibuku sendiri,
“ Rima sudah meninggal empat hari yang lalu semenjak dia bergegas beliau pergi ke kamar Rima dan sepertinya ada sesuatu yang akan di berikan padaku, ya benar sebuah surat di genggam oleh beliau dan di dengan segera di berikan padaku,
“ ini ada sebuah pesan untukmu dari Rima” ucap ibu
dan segera aku ambil surat itu, lalu aku baca
untuk seseorang yang aku cintai, untuk seseorang yang aku idam idamkan kehadirannya dalam hidupku, sebelumnya aku minta maaf atas kejadian kemarin yang telah membuatmu marah, yang telah membuatmu emosi karena aku menolak ijinmu untuk pulang, seakaan akan aku mengekangmu dan membelenggumu, tapi dalam pikiranku tidak ada niatan yang seperti itu, aku hanya inginkan kamu untuk menemaniku kali ini saja dalam rutinitasku yaitu cuci darah besok pagi, dan sekali lagi, aku minta maaf, mungkin kamu belum tahu keadaanku sebenarnya, kenapa harus cuci darah segala?, aku takut, dan aku takut kepadamu untuk memberitahukannya, aku sadar kamu mencintaiku bukan dilihat dari fisik dan hartanya saja tapi kau mencintaiku karena sesuatu yang tumbuh di hatimu, selain itu aku juga takut jika memberitahukan kepadamu tentang keadaanku sebenarnya, tapi demi kejelasan, aku tuliskan surat ini untukmu supaya kamu tahu apa yang aku derita, aku sebenarnya menderita penyakit leukemia, itulah kenapa ayah dan ibu melarangku untuk bermain dengan anak anak kampong, mereka sayang padaku, mereka cinta, tapi aku butuh teman, teman pendamping hidupku,dan aku sudah temukan itu, seseorang yang membuatku hangat dan bersemangat untuk melanjutkan hidup, dan itu adalah kamu. Aku tidak ingin kau mencintaiku hanya kamu kasian kepadaku, seorang gadis yang menderita leukemia, dan harus di temani di mana saja, bukan itu aku hanya ingin kau mencintaiku apa adanya dan mencintaiku dengan segenap jiwa ragamu untuk menemaniku selamanya,
I love you
Setelah kubaca surat itu, tanganku terasa lemas dan tidak bisa ku gerakkan sama sekali,
“ ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……….” Teriak aku sekuat tenaga, sampai semua orang yang ada disana kaget,
“ makamnya di mana, aku harus kesana,,,” ucapku dengan nada agak keras,
dengan lekaspun kami menuju sana, sesampainya kesana, aku lihat sebuah batu nisan tertancap di atas sebuah gundukan tanah yang masih di terlihat jelas taburan bunga berwarna merah menghiasi makam tersebut, aku hanya bisa meratapi makamnya , jiwaku terasa kosong, pikiranku kemana mana, mungkin jika ada sebuah pukulan mengarah kepadaku, aku akan jatuh terguling guling, menggelinding seperti tong,
tak terasa, semalam aku habiskan hanya meratapi rumah yang sudah terhuni ini, terhuni oleh jasad cantik yang membawaku ke alam percintaan, ke alam di mana makhluk hidup terlena dengan namanya cinta, yang terbuai dalam kasmaran, yang membuat buta jadi buta akan hidup.
akupun pulang keesokan harinya, tanpa berpamitan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar